#fashion #true #cost #bangladesh #documentary #movie

Oleh: Ley Fajrin*

“Ini Kisah tentang pakaian yang kita kenakan, orang – orang yang membuat pakaian, dan dampaknya pada dunia kita. Ini adalah kisah tentang keserakahan dan ketakutan, kekuasaan dan kemiskinan. Sebuah persoalan kompleks, terjadi di seluruh dunia. Sekaligus sederhana, mengungkap bagaimana kita terhubung ke banyak hati dan tangan di balik pakaian kita.” – Andrew Morgan –

Kutipan tersebut Merupakan prolog yang membuka The True Cost ; sebuah film karya Andrew morgan yang dirilis pada 14 november 2015 di Jepang dan diproduseri oleh Michael Ross. Film ini mengupas dunia fashion dengan menginvestigasi pihak-pihak terkait dari berbagai negara seperti ; Amerika, China, Bangladesh, Jepang, Kamboja, Italia dan India. Serangkaian investigasi dari beberapa narasumber menjadi plot-plot dialog yang di tawarkan sepanjang pemutaran film berlangsung.  Film  yang mengisahkan cerita manusia dibalik pakaian,  dimana pakaian tidak sesimpel dalam anggapan kita selama ini; di beli di swalayan – dipakai – menempel di tubuh kita – lalu menjadikan kita sebagai pemakai di baliknya.

 

Pada film ini, kehadiran fashion tidak berhenti pada kompleksitas peragaan busana atau teknis perancangan design, subjek pembahasan lain seperti manusia dalam proses produksi fashion yang selalu luput dari perhatian dibahas secara mendalam disini.  Beberapa stakeholder seperti fashion designer, garmen factory owner, pekerja garment, aktivis lingkungan, ahli ekonomi, ahli pertanian, hingga pemilik lahan pertanian kapas dilibatkan menjadi narasumber guna memberikan keterangan sesuai kapasitas dari bidangnya masing-masing. Kompleksitas Proses produksi menjadi daya tarik utama dalam film ini.

Hadiah fast fashion bagi buruh garmen

#fashion #true #cost #bangladesh #documentary #movie
The future is on sale

 

Amerika sebagai pusat fashion dunia dan menjadi produsen pakaian terbesar di tahun 60-an, kini kondisi tersebut berubah drastis. Amerika mengurangi produksi pakaian dari 95% produksi  hingga pada titik 3%, alhasil 97% produksi pakaian di berasal dari outsourcing di negara-negara berkembang seperti  Bangladesh, Kambodja, dan india. Hal ini disebabkan oleh terjadinya deflasi dimana biaya produksi dari tahun ke tahun semakin tinggi sementara harga jual pakaian semakin murah.

 

Fast fashion menjadi dorongan terbesar bagi terjadinya deflasi dimana industri penjualan produk pakaian di lakukan secara cepat dan dengan harga jual yang relatif murah. Pergeseran budaya konsumsi ini tentu tidak serta merta seirama dengan kondisi di pihak-pihak yang terkait, seperti; pihak produksi pembuat pakaian dan pengelola pertanian kapas sebagai bahan baku kain. Dalam film ini di jabarkan bagaimana polemik yang kemudian lahir secara berantai  setelah budaya fast fashion terlahir.

 

Pekerja garment merupakan salah satu pihak utama yang terkena dampak dari fast fashion. Negara-negara dunia belahan ketiga menjadi sasaran produk atau brand pakaian dalam menjalankan bisnis pakaian mereka.  H&M, ZARA, Forever21 adalah beberapa brand-brand besar yang diceritakan dalam film ini menjalin kerja sama bisnis pakaian dengan negara-negara seperti China, Bangladesh, Kamboja dan India. Kerjasama ini mengandalkan mekanisme dimana semua barang manufaktur di alihdayakan untuk harga yang rendah. proses tersebut meliputi penerapan upah yang sangat rendah dan csirkulasi produksi dari negara satu ke negara lainnya. Kesejahteraan, kelayakan, dan martabat seorang pekerja garment merupakan bagian yang akan dikupas lebih dalam film ini.

 

Negara yang mencuri perhatian dalam film ini adalah Bangladesh. Bangladesh adalah negara kedua setelah china yang banyak mengekspor pakaiannya ke Amerika, dari 40 juta pekerja tekstil dunia, 4 juta diantaranya berkerja di Bangladesh. Dalam film ini digambarkan bagaimana sebuah tragedi mengejutkan terjadi di pinggiran kota Dhaka, Bangladesh, pada pagi di bulan juli. Gedung garment delapan lantai runtuh, hampir seribu pegawai garment meregang nyawa tertimpa reruntuhan gedung. Kelayakan tempat kerja, eksploitasi lembur dan keamanan kerja menjadi unsur penting yang harus dikorbankan demi tercapainya target produksi. Peristiwa tersebut menjadi sebuah sejarah terburuk bagi dunia industri fashion. film ini juga membahas banyak permasalah pekerja garment di Bangladesh dan di bagian dunia lainnya yang belum terpecahkan seperti; upah rendah, kondisi tidak aman dan bencana di pabrik-pabrik menjadikan kebutuhan yang di benarkan guna mendapatkan lapangan pekerjaan.

 

Kini pertanyaannya beralih kepada kita sebagai konsumen fast fashion, pernahkah kita berpikir bagaimana trend pakaian berganti dengan cepat dan harga yang ditawarkan pun semakin murah. Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi motivasi dari film dokumenter berjudul The True Cost ini. Pertanyaan yang terlalu sederhana sehingga mampu membongkar pilar-pilar kesombongan industri fashion global, sekarang siapkah kita membuka mata dan menepis ilusi gemerlap dunia fashion? Film ini dapat menjadi stimulus besar untuk mencari tahu lebih dalam mengenai dunia fashion, apa yang kita lihat dan apa yang sebenarnya terjadi. Selamat menonton.

*Spesialis Kopi Tubruk di Ngopimovement