Nikmat kopi tubruk harum, kental dan pahitnya kolonialisme

Tidak ada yang tahu (atau setidaknya saya yang belum tahu) sejak kapan kita mengenal kopi tubruk, tapi setidaknya kita dapat menyusurinya dari tiga abad yang lalu.

0
312

Rolip Saptamaji

Bicara soal kopi tubruk, tak mungkin jika tidak diawali dengan sejarah yang berkelit dan berkelindan dengan kedatangan kopi di Indonesia. Sebagai teknik penyajian khas indonesia, asal muasal kopi tubruk tentu sekental dan sepahit sejarah kedatangan kopi di negeri ini. Tidak ada yang tahu (atau setidaknya saya yang belum tahu) sejak kapan kita mengenal kopi tubruk, tapi setidaknya kita dapat menyusurinya dari tiga abad yang lalu.

Hampir tiga abad orang Indonesia, terutama mereka yang berada di Jawa barat berkenalan dengan Kopi. Datang dari India dari tangan penjajah Belanda, Kopi membawa perubahan besar di negeri ini seperti kutukan. Ia tidak datang sekedar menjadi komoditas pertanian, tapi juga tiket emas kolonialisme Belanda.

Tanpa keajaibannya, VOC tak mungkin menyaingi dominasi spanyol di Eropa. Tanpa dominasi VOC juga tak mungkin kita merasakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang merombak pondasi sosial kita. Begitulah kopi datang ditengah kita, kental dengan cerita dan pahit seperti ingatan tanam paksa.

Dari tiga abad cerita tentang kopi, belum sampai dua abad kita mengonsumsinya sebagai minuman. Kopi adalah komodiatas perdagangan istimewa bagi colonial, upaya memperdagangkannya diluar lingkaran Priyayi dan VOC sama saja dengan mengantar nyawa. Namun, sejak beralihnya model tanam paksa dari tanaman pekarangan menjadi perkebunan, kopi menjadi tanaman semak di rumah-rumah petani.

Daya tarik kopi masih kuat, sekuat aromanya yang menarik para pedagang Cina dan Arab untuk membelinya secara illegal dari para petani. Dari merekalah para petani belajar mengolah dan meminum kopi dari biji yang dikeringkan, dipanggang alakadarnya, ditumbuk hingga menjadi bubuk kasar. Sajak saat itulah kita mulai mengonsumsi kopi, sebagaimana para pedagang Cina dan Arab, kitapun belajar mengolahnya dengan meniru mereka, direbus, disaring, hingga akhirnya frustasi, disiram air mendidih.

Bubuk kopi kasar yang disiram air mendidih inilah yang saat ini kita kenal sebagai kopi tubruk. Ditubruk gula, ditubruk air mendidih, diaduk aduk hingga merata. Tapi bukan cuma itu, kopi tubruk ditubruk juga oleh kolonialisme, ditubruk tanam paksa, diaduk aduk dengan darah dan keringat rakyat jajahan. Tubrukan ini yang membuatnya kental, pahit dan harum.

tulisan ini dipublikasi ulang dari:

Nikmat kopi tubruk harum, kental dan pahitnya kolonialisme

https://kumparan.com/rolip-saptamaji/kopi-tubruk-harum-kental-dan-pahitnya-kolonialisme-nusantara