photo Source : https://nickilisacole.wordpress.com/2011/10/15/colonialism-in-your-cup-remembrances-of-the-dutch-empire-in-amsterdam/

Di Indonesia, keakraban kopi dan buruh bukan sekedar sahabat lembur. Kopi dan buruh berbagi sejarah panjang kolonialisme yang melahirkan sistem perburuhan Modern. Kopi adalah alasan kemunculan perburuhan modern di Nusantara, sekaligus gerakan-gerakan buruh yang menyertainya.
Semua bermula dari tanam paksa, ketika para tuan feodal bermesraan dengan kolonial (1707-1870). Diawali dari Priangan, sistem ini disebar ke seluruh jawa dan diperluas ke Sulawesi dan Sumatera berbarengan dengan migrasi pekerja dari Jawa.
Dalam Tanam Paksa, pertanian tak lagi seperti biasa, 20% tanah miliki setiap warga dipaksa tanam komoditas ekspor sekaligus dikerjakan 75 hari dalam setahun untuk memperindah singgasana. Tapi jangan lupa semua harus dijual ke Belanda. Tanam paksa sukses memperluas derita. Protes, boikot dan pemberontakan-pemberontakan kecil petani pun meluas dari Kuningan, Grobogan, Demak dan daerah kultivasi lainnya.

Lantas apa hubungannya dengan Buruh?
Tanam paksa tidak hanya melahirka derita tapi juga melahirkan perubahan sistem sosial dan ekonomi. Seperti biasa, ketika Modal dan teknologi masuk ke suatu wilayah selalu terjadi pergolakan dalam masa adaptasi. Masyarakat Jawa pada saat itu mulai mengenal organisasi kerja industri perkebunan, seiring dengan integrasi lahan garapan selama era Tanam Paksa. Para petani tak bertanah mulai bekerja mengandalkan tenaga dan berkenalan dengan sistem upah.
Sistem Upah inilah yang menjadi landasan dari sistem perburuhan modern. Mekanisme upah dan protes upah dipelopori oleh keresahan para kuli panggul yang tidak dibayar. Mereka tidak berkontribusi langsung dalam penanaman dan panen, namun merekalah yang memastikan kopi dari desa-desa perkebunan di Jawa dapat sampai pada waktunya ke Batavia. Sistem upah juga membongkar kecurangan priyayi dan kolonial melalui satuan ukuran kilo, pon (eropa) atau pikul (tradisional). Proses ini kemudian yang dikenal sebagai proses proletarisasi desa.

Kopi menjadi Kausa
Demi kopi yang sedang merajai pasar dunia, nusantara mengenal rel-rel kereta. Lokomotif melintas di kota-kota membelah perkebunan-perkebunan dari ujung Jawa hingga Batavia. Para kuli dan buruh kereta inilah yang nantinya pada 1918 melahirkan gerakan buruh modern melalui protes-protes dan propaganda.
Jalinan sejarah yang rumit antara pergerakan buruh dan petani indonesia rasanya bisa diringkas melalui satu kausa, tanam paksa. Pahit getirnya dirangkum di dalam cangkir-cangkir kopi di depan kita. Diantara riuh Mayday 2018 ini secangkir kopi bisa menyegarkan kita para buruh fisik dan mental, bukan lagi sekecap rasa tapi setangkup cerita.

Rolip Saptamaji
Tukang Gambar yang banyak cerita
Jakarta, 1 Mei 2018