Siapa sangka sekarung kopi dapat memenggal kepala raja Louis dan Maria Antoinette, merendam habis kejayaan feodalisme dan menyokong kecerdasan kaum borjuis. Tidak, ini bukan soal revolusi dan pertentangan , ini soal segelas kopi yang ada di depan kita. Soal bagaimana segelas kopi bisa didepan kita dalam pergolakan teko sejarah. Kemarin kita sudah ke Jawa dan mempertanyakan soal kopi tubruk dan menjenguk sejarah buruh. Kini kita ke Paris, membahas sekumpulan peminum kopi yang menggulingkan feodalisme.
Kopi Masuk ke Perancis
Semua diawali oleh seorang Italia, Fransesco Procopio De coltelli, yang ingin berbisnis di Paris. Ia membangun sebuah restoran bernama Le Proco, pada tahun 1686. Restoran inilah yang kemudian memperkenalkan kopi sebagai pilihan minuman bagi kaum borjuis di Paris. Kopi membuat orang Perancis terkejut setengah mati, karena dampaknya yang membingungkan. Bukannya tenggelam dalam kemabukan, mereka malah tenggelam dalam obrolan yang semakin hari semakin serius. Kafe yang menyediakan kopi sebagai pilihan minuman pun berjamur di Paris, beberapa diantaranya sangat disukai oleh kaum pelajar dan pedagang seperti Cafe de Flore dan Cafe de Parisien.
Kafein dalam kopi bertentangan dengan alkohol dari anggur yang biasanya mereka minum. Orang Perancis pada abad 17 – 18 di era Louis XIV dan XV biasa meminum 7 – 8 liter anggur per hari atau setara dengan 1,5 liter alkohol setiap harinya, selain itu mereka bekerja 14 – 15 jam per hari. Semua demi menghindari frustasi dan melepas lelah setelah 16 jam bekerja. Ketika kopi datang, mereka merasakan dampaknya secara langsung. Tubuh yang lelah menjadi bugar, bahkan pikiran mereka semakin cerah. Buruknya, mereka tak bisa langsung tidur seperti setelah meminum anggur.
Awalnya Ngopi jadinya Revolusi
Bukan cuma pulang kerja, kopi juga menjadi minuman energi sebelum memulai kerja. Kebiasaan ini mengakar dan terus menguat. Dalam waktu singkat, cafe-cafe baru mulai bermunculan dan menghasilkan trend kehidupan kafe yang hiruk pikuk dengan diskusi. Obrolan pun makin serius, keluh kesah perorangan berangsur-angsur menjadi keluh kesah kolektif yang tumpah mencari akar penindasan sesungguhnya. Dibawah semangat pencerahan (Aufklarung) dan romantisme, kelompok-kelompok ahli begadang bermunculan di Perancis. Hari demi hari obrolannya semakin serius, keluh kesah sekarang menjadi rencana aksi dan organisasi. Salah satu dari mereka adalah kelompok Jacobin yang menjadi episentrum gerakan revolusioner Perancis.
Penjara Bastille rubuh, revolusi pun pecah di Perancis, kaum bangsawan Perancis diburu dan dipenggal di Alun-alun Kota Paris. Fedoalisme diluluhlantakkan oleh gerakan kaum Borjuis yang berkoalisi dengan kaum proletariat. Puluhan tahun revolusi di Perancis silih berganti, Kaum Borjuis mengukuhkan kekuasaan dengan melahirkan Republik, sebuah negara modern tanpa kekuasaan kaum feodal. Sayangnya semua perubahan ini tidak melahirkan perbaikan kondisi kaum pekerja (proletariat) Perancis.
Revolusi Perancis mengguncang Imperium-imperium kolonial Eropa, terutama Inggris yang dijadikan pelarian para bangsawan Perancis. Seketika, Kopi menjadi ramuan menakutkan bagi kaum penguasa. Inggris pun menghentikan perdagangan Kopi dari luar Inggris dan menggantikannya dengan teh. Sejak saat inilah kebiasaan minum teh menyebar di Inggris, menggantikan keresahan kopi dengan ketenangan demi mengamankan Monarki.
Kontroversi yang dilahirkan oleh kopi tak berakhir sampai disini, sejarahnya berbagi dengan sejarah pergerakan sosial dan gejolak politik di berbagai belahan dunia. Kopi dan kandungan kafeinnya yang luar biasa mengaktifkan akal yang tertidur, melahirkan benih-benih pencerahan dan modernisasi. Kopi menjadi karunia alam dari Benua Hitam yang datang bersamaan dengan kutukan kecerdasan. Udah ngopi hari ini?