Dik3Penulis: Dikdik R. Mulyana*

 

Saya masih ingat, waktu kecil dulu menjelang tidur ibu saya menceritakan bahwa tetangga saya, seorang nenek renta dapat berubah menjadi makhluk mengerikan setiap tengah malam. Nenek itu setiap tengah malam berubah menjadi Pokpok atau Pongko, makhluk bisa terbang yang hanya bersisa kepala, jantung beserta isi perutnya yang menggantung, sedangkan badannya ditinggal. Setiap terbang makhluk itu selalu mengeluarkan suara : “Pok Pok, pok pok”. Makhluk itu mencari hewan ternak, atau anak-anak kecil yang belum tidur di tengah malam. Cerita itu mengerikan sekali bagi orang dewasa, apalagi bagi seorang anak kecil, sehingga sangat ampuh untuk memaksa saya nurut untuk tidur di malam hari dibandingkan dengan mendengarkan bait terakhir dari Lagu Nina Bobo : “Kalau tidak tidur nanti digigit nyamuk”.

Dik_illustrasi1Gambar Makhluk Pokpok. Sumber : http://www.sembilandunia.com/

 

Selama bertahun-tahun kemudian saya percaya cerita itu. Setiap pulang sekolah saya selalu menghindari untuk lewat di depan rumah nenek tersebut. Pernah sekali ketemu dengan nenek itu pas sore hari, takutnya bukan main. Tidak ada upaya mempertanyakan kebenaran cerita itu, misalnya dengan mencari adakah tetangga yang hilang ke kantor KONTRAS, membaca buku mitologi di perpustakaan hingga larut malam, berdiskusi dengan ahli antropologi, mention @enigmablogger, ataupun googling. Tidak, internet masih teknologi militer Amerika saja waktu itu. Sebagai anak kecil yang lugu, lucu dan polos, saya percaya saja. Seandainya Kak Seto atau Tika Bisono sudah eksis saat itu dan kenal dengan ibu saya, mungkin ibu sudah kena semprot abis tentang cara mendidik anak yang bener. Lulus SD saya pindah rumah, dan saya tidak tau bagaimana kisah si nenek selanjutnya.

Setelah kuliah, saya baru tau ternyata makhluk PokPok itu adalah folklor yang terdapat di daerah Sulawesi Utara dan Selatan (Bugis), Kalimantan (disebut Kuyang), bahkan ada juga di Fillipina (dengan nama Wakwak atau Manananggal), Thailand (Phi Krasue), dan Jepang (Nukekubi). Saya juga paham, kenapa ibu menceritakan itu ke anak-anaknya. Ya, agar saya nurut. Nurut, dengan dongeng mengerikan atau yang mengancam, adalah cara persuasif yang efektif dari orang tua bagi anak-anaknya. Tapi, nurut untuk tidur tepat pada waktu Yasser Denhas membacakan berita di acara “Dunia Dalam Berita TVRI” (jam 9 malam) bukan hanya satu-satunya dampak dari dongeng PokPok bagi saya waktu itu.

Dampak lainnya tersebut adalah trauma. Setiap mendengar suara seperti Pok pok, saya selalu berusaha untuk tidur, mau siang atau malam. Padahal bisa jadi itu suara Kodok yang sedang kawin. Setiap berpapasan dengan seorang nenek renta, saya selalu mencurigai jangan-jangan itu PokPok. Kondisi ini persis dengan penelitian yang dilakukan oleh ahli psikologi, Atkinson dkk., tahun 2010. Dalam sebuah eksperimen, seekor tikus ditempatkan pada ruangan yang alasnya dapat teraliri arus listrik. Tikus tersebut lantas disetrum setelah mendengar sebuah bunyi khusus. Setelah beberapa kali bunyi yang disusul setruman diulangi, tikus kemudian menunjukkan rasa takut dan mengalami defekasi ketika hanya mendengar bunyinya (tidak disusul setruman). Ketakutan tersebut terjadi akibat pengondisian.

Selain takut yang luar biasa, muncul juga perasaan benci terhadap si nenek. Dengan beberapa teman sebaya, saya secara sembunyi2 sering melempari rumah si nenek dengan batu – tentunya pada siang hari dengan keringat dingin dan jantung berdebar keras. Saya ingin nenek itu pindah jauh ke hutan, atau bahkan mati ketabrak angkot saja sekalian. Mungkin kalau saja saya sudah tau bagaimana cara membentuk kekuatan melalui organisasi saat itu, tentu akan terbentuk “Front Pembela Anak-Anak Pembenci PokPok” yang bergerak dengan terstruktur, sistematis dan massif untuk mengucilkan dan mengusir si nenek. Bisa jadi ada tindakan kekerasan, membakar rumah atau pembubaran acara makan siang si nenek dengan keluarganya. Mungkin juga ada yang mau membiayai kegiatan Front itu. Bahaya juga yah dampaknya.

Rasa takut selalu diiringi dengan persepsi-persepsi subyektif terhadap objek yang ditakuti. Persepsi menimbulkan abtsraksi yang akhirnya menumbuhkan stereotype.  Inilah yang disebut oleh Gordon W. Allport (1954) bahwa generalisasi yang salah akan menciptakan sikap antipati. Celakanya, kalau stereotype itu berjama’ah dan selalu dipertahankan secara turun temurun dalam masyarakat. Indonesia negara yang beragam dalam hal stereotype tak berdasar yang menciptakan antipati komunal. Banyak cerita yang dikarang-karang, fakta yang bercampur dongeng, foto hoax, kultuit yang viral, “buku putih” yang isinya ternyata hitam sama sekali. Tidak bisa dipungkiri, banyak latar belakang motif ekonomi, pertikaian elit politik bahkan campur tangan asing di balik dongeng itu.

Yang terbaru, isu soal bahaya komunisme yang sebenarnya lagu lama dan terus diulang oleh kaset yang sama, tetapi menjadi ramai lagi karena mendapatkan momentumnya terutama sejak simposium 65 yang dibuat oleh pemerintah Jokowi. Menengok Google Trends, pencarian topik “komunisme” naik pesat sehari setelah Simposium 65, sempat turun dan naik lagi hingga mencapai indeks 100 (maksimum) sekitar tanggal 5 – 6 Mei seiring dengan adanya isu tak berdasar tentang peringatan hari lahir PKI tanggal 9 Mei di Jogja. Kata kunci yang naik daun dicari pengguna google saat itu adalah “Komunisme Gaya Baru”.

Ketakutan itu benar2 dirancang dengan sempurna melalui berbagai lini : media massa, film karya Arifin C. Noer, monumen Lubang Buaya, buku karangan perwira atau peneliti yg sering ngasih kurpol di Lemhanas, lagu, puisi, surau-surau, fatwa-fatwa, buku pelajaran dari SD sampai kuliahan, kanda-kanda senior di Senat Mahasiswa, cerita orang tua, hingga ormas bayaran. Saya masih ingat bait lagu tradisional yang sering saya nyanyikan bersama teman2 sebaya dulu :

“Pak menta duit,

Menta Ka Aidit,

(Alim) Sieun dipeuncit,

Ku Palu Arit”

Lewat simbol-simbol yang menakutkan, cerita yang tanpa mampu dibuktikan seperti kisah Gerwani membuat pesta penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya. Orde Baru, sukses menanamkan rasa takut tak berdasar itu hingga berpuluh tahun lamanya, dan diteruskan oleh para pemimpin negara beserta aparatusnya hingga saat ini. Berseberangan dengan dongeng Pokpok yang membuat saya langsung tidur, rekaman tentara yang turun dari truk untuk menjemput Ahmad Yani dalam scene film Pemberontakan G30SPKI karya Arifin C Noer justru membuat saya tidak bisa tidur karena khawatir jangan2 tengah malam nanti para tentara PKI itu akan datang ke halaman rumah saya untuk menjemput bapak (padahal bapak saya bukan jenderal AD ataupun tokoh Manikebu).

Dik_illustrasi2

Ilustrasi pembantaian para jenderal oleh kader PKI dan underbouwnya di Monumen Lubang Buaya. Sumber : Antara

 

Bukan soal sepakat atau tidak terhadap Marx, Lenin, Aidit, atau Amir Sjarifuddin, bukan juga soal benar atau tidak PKI itu. Tapi lihatlah dampak ketololan yang dilakukan oleh aparat dan beberapa ormas yang merazia buku di toko-toko, menyita kaos band metal, membubarkan konser reggae, membubarkan diskusi kampus dan nonton bareng, bahkan menangkap aktivis karena meng-upload foto kaos Pecinta Kopi Indonesia di sosmed. Sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya tindakan itu dilakukan terhadap acara kelompok atau orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan upaya menyebarluaskan ideologi Marxisme-Leninisme di Indonesia. Justru sweeping atau pembubaran acara ini dilakukan terhadap komunitas dan kelompok yang selama ini kritis dan aktif mengadvokasi kaum marjinal. Apakah tindakan kepolisian beserta aparat TNI itu karena mereka tidak memahami sejarah di Indonesia? Saya tidak yakin. Kajian soal Marxisme dari sejarah ISDV hingga PKI di Indonesia itu bagian dari materi seminar ataupun  pendidikan perwira TNI. Disampaikan oleh peneliti dan sejarawan lagi. Apakah aparat dan ormas ini kurang piknik ataupun memang sengaja me-norak-kan diri demi kucuran dana pengamanan? Pengalihan isu, pertikaian elit militer, konspirasi freemason? Ulah Annunaki untuk menggantikan ras manusia Indonesia dengan Alien? Ah, saya tidak mau mengandai-andai.

Yang jelas, rasa takut itu terus dipelihara, dijaga dan dirawat. Agar masyarakat takut dan nurut. Rasa takut itu bisa saja digunakan sewaktu-waktu menjelang Pilkada atau Pilpres, kasus korupsi pejabat atau konflik di antara elit. Rasa takut itu kemudian menciptakan rasa benci tak berdasar, dan lebih bahaya, menciptakan ketotolan massal secara turun temurun. Rasa takut yang terus dirawat itu pada akhirnya mematikan daya kritis dan membuat rakyat ahistoris akan sejarahnya sendiri, membubarkan forum-forum ilmiah yang demokratis, membuat orang ragu untuk menyampaikan pendapat yang berbeda, terusir karena berkeyakinan yang berbeda. Pada akhirnya, rasa takut itu akan membenarkan penggusuran rakyat miskin di perkotaan maupun pedesaan demi mantra ajaib yang bernama “pembangunan infrastruktur”. Rasa takut itu justru bahaya laten, yang mengancam nasib demokrasi yang belum juga tuntas dilaksanakan di negeri ini.

Ya, seperti ibu saya bertahun-tahun silam agar saya nurut untuk tidur tepat waktu, rasa takut yang terus dipelihara itu berdampak luas terhadap kejumudan berfikir pada tahun – tahun selanjutnya. Rasa takut tak berdasar yang dikondisikan dengan sedemikian sistematis itu sejak puluhan tahun lalu, pada akhirnya akan membunuh bangsa ini sendiri. Nampaknya Pak Sutiyoso, Luhut, Ryamizard, para jenderal TNI dan POLRI serta petinggi2 ormas/ laskar itu perlu paham akan hal ini : PKI adalah partai politik, bukan event organizer suatu acara musik jazz di kampus. Kalaupun benar PKI mau bangkit kembali dan menyebarluaskan marxisme-leninisme di Indonesia, hal itu tidak dilakukan dengan bagi2 kaos dan nempelin stiker di tiang listrik lewat mobil “Papa Kilo Indonesia”. Itu tak ada bedanya dongeng nenek Pokpok yang bisa makan anak kecil yang tidak nurut untuk tidur. Pembubaran acara, razia toko buku dan kaos distro, nempelengin anak kecil karena pakai PIN palu arit, adalah bukti kalapnya negara terhadap ketakutan dari dongeng yang secara turun temurun mereka rawat sendiri. *.*

 

*Penulis: Pecinta Kopi Item & Pegiat Ngopimovement.org